Gangguan Mental, Gejala dan Cara Mengobatinya

Article | 2023-07-26 01:44:25

Home » Articles » Gangguan Mental, Gejala dan Cara Mengobatinya

Gangguan Mental,

Gejala dan Cara Mengobatinya




Kesehatan mental menjadi perhatian khusus dari banyak pihak, terlebih sejak pandemi COVID-19. Situasi di hampir seluruh belahan dunia yang mengharuskan orang untuk tidak beraktivitas di luar rumah dan hanya berdiam diri di dalam rumah membuat tingkat stres meningkat karena interaksi dengan orang-orang menjadi berkurang, merasa sendiri, hingga merasa terisolasi. Laporan peningkatan kasus gangguan mental selama pandemi COVID-19 pun meningkat. Gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan kondisi kesehatan dimana individu tersebut mengalami perubahan dalam pola pikir, emosi, atau perilaku maupun gabungan dari ketiga perubahan tersebut. Gangguan jiwa menurut Depkes RI adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, sehingga dapat menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Sama halnya dengan penyakit fisik, penyakit mental juga ada obatnya. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai cara mengatasi serta mengobati beberapa jenis gangguan mental.

Stigma negatif yang berkembang di masyarakat Indonesia mengenai gangguan mental membuat banyak orang membatasi dirinya untuk mendapatkan bantuan atau pengobatan. Gangguan mental kerap dikaitkan dengan ketidakwarasan atau lebih kasarnya disebut gila. Sebagian orang kemungkinan telah menyadari ada yang tidak beres dengan kesehatan mentalnya, namun tidak berani mencari bantuan untuk pengobatan atau bercerita kepada orang lain karena stigma ini. Perlu diketahui, bahwa era sudah berubah, dan cara berpikir masyarakat pun semakin berkembang, di mana sejak pandemi COVID-19 kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental juga meningkat. Gangguan jiwa dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor biologi yang meliputi otak, sistem endokrin, genetik, sensori, dan faktor ibu selama masa kehamilan, faktor psikologis yang meliputi pengalaman awal, proses pembelajaran, dan kebutuhan dalam hidup, faktor sosial budaya yang meliputi stratifikasi sosial, interaksi sosial, keluarga, perubahan sosial, dan sosial budaya itu sendiri, serta yang terakhir adalah faktor lingkungan. Ada beberapa gejala dan tanda gangguan mental yang terjadi pada seseorang dengan gangguan mental, tergantung pada jenis gangguan mental yang dialami. Penderita gangguan mental dapat mengalami gangguan pada emosi, pola pikir, dan perilaku. Beberapa contoh gejala dan ciri-ciri gangguan mental, antara lain:

  • Waham atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya

  • Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata

  • Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi

  • Memiliki pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan

  • Suasana hati yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu

  • Perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan

  • Perasaan cemas atau takut yang berlebihan dan terus menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari

  • Gangguan makan, misalnya merasa takut berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak

  • Perubahan pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur

  • Perubahan gairah seks

  • Kecanduan nikotin atau alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA

  • Marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan

  • Adanya pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain

  • Tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti merawat anak atau pergi ke sekolah atau tempat kerja

  • Perilaku yang tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang


Selain gejala yang terkait dengan psikologis, penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik, misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag.

Sama halnya dengan penyakit fisik, penyakit mental juga bisa diobati. Pengobatan gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami penderita dan tingkat keparahannya. Pengobatan gangguan mental dapat berupa terapi perilaku kognitif, pemberian obat-obatan, hingga perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien dari negatif menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi gangguan mental seperti gangguan kecemasan, gangguan bipolar, gangguan tidur, depresi, dan skizofrenia. Biasanya, pada banyak kasus gangguan mental, dokter akan mengkombinasikan terapi ini dengan pemberian obat-obatan untuk pengobatan gangguan mental yang lebih efektif. Pemberian obat-obatan atau medikasi pada penderita gangguan mental bertujuan untuk meredakan gejala yang dialami penderita dan meningkatkan efektivitas psikoterapi. Beberapa obat yang biasa diresepkan oleh dokter antara lain, antidepresan, antipsikotik, pereda cemas seperti alprazolam, dan mood stabilizer seperti lithium. Salah satu pengobatan gangguan mental yang tidak kalah penting adalah perubahan gaya hidup. Menjalani gaya hidup sehat dapat memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan mental yang juga mengalami gangguan tidur, terutama bila dikombinasikan dengan metode pengobatan psikoterapi dan medikasi. Jika mengalami gangguan mental yang cukup parah, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Demikian pula jika penderita tidak bisa menjalani perawatan mandiri atau gangguan mental menyebabkan penderita melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kesehatan mental memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sosial seseorang, oleh karena itu penting bagi dokter gigi untuk selalu memperhatikan kesehatan mental pasiennya, baik itu anak-anak yang rentan pada trauma terhadap dokter gigi serta perawatan dental, orang yang mengalami Dentophobia, orang dengan kecemasan atau stres atau ketakutan berlebih, dengan menyediakan fasilitas yang dirancang khusus untuk dapat meredakan kecemasan pasien. BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center dilengkapi dengan beberapa fasilitas khusus yang dapat membantu pasien merasa lebih tenang, dan dapat mengatasi kecemasan yang dialami pasien, antara lain:

  • Smart TV yang dapat menjadi distraksi perhatian pasien selama perawatan dental dilakukan, sehingga pasien tidak berfokus pada rasa takutnya.

  • Headphone Bluetooth dapat meredam suara dari peralatan dental yang biasanya dapat memicu dan meningkatkan kecemasan pasien.

  • Selimut untuk menghangatkan dan membuat pasien rileks selama perawatan dental.

  • Aromaterapi akan menimbulkan rasa rileks pada pasien selama perawatan dental.

  • Stress Ball dapat menurunkan stress pasien selama perawatan dental dengan cara diremas atau dipijat.

Kesadaran akan kesehatan mental harus ditingkatkan, dan jika menyadari diri anda atau orang-orang di sekitar anda mengalami gangguan mental, maka segera menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Semakin cepat ditangani, maka gangguan mental dapat diobati dengan optimal. BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center berkomitmen untuk menjaga kesehatan mental dokter-pasien untuk kesejahteraan dan kenyamanan bersama. Periksakan kesehatan gigi dan mulut anda setidaknya setiap 6 bulan sekali di klinik gigi terbaik kepercayaan anda. BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center merupakan klinik gigi dengan dokter gigi berpengalaman di bidangnya. BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center dilengkapi fasilitas dengan teknologi terbaru yang memungkinkan pasiennya mendapatkan perawatan dental terbaik, hadir dengan nuansa dominasi warna biru yang membuat pasien merasa lebih nyaman dan tenang selama menunggu antrian. Ruang tindakan dental dengan tampilan pantai dan langit biru yang cerah akan membuat anda semakin tenang dan relax selama perawatan dental. BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center merupakan klinik gigi terpercaya di dekat Kuta dan tidak jauh dari bandara. Jangan sampai masalah gigi merusak liburan anda di Bali, jika anda sedang menikmati pemandangan Ubud yang asri dan tanpa diduga memerlukan dokter gigi, jarak dari Ubud menuju BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center kurang lebih 35 km. Percayakan perawatan gigi anda pada dokter gigi di klinik gigi terbaik di Bali pilihan anda.


BIA (Bali Implant Aesthetic) Dental Center
Jl. Sunset Road No.168, Seminyak, Badung, Bali Indonesia 80361.
+6282139396161

REFERENSI:

American Phsychiatric Association. 2015. What is mental illness. (https://www.psychiatry.org/patients-families/what-is-mental-illness)

Departemen Kesehatan RI. 2000. Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta.

World Health Organization. 2016. (https://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs396/en/)

Gao, J., et al. (2020). Mental Health Problems and Social Media Exposure During COVID-19 Outbreak. PLOS One, 15(4), pp. 1–10. 

Gloster, A., et al. Impact of COVID-19 Pandemic on Mental Health: An International Study. PLOS One, 15(2), pp. 1–20. 

Center for Disease Control and Prevention (2022). Mental Health. Coping with Stress. 

World Health Organization (2020). Mental Health and Psychosocial Consideration During the COVID-19 Outbreak.

Bhandari, S. WebMD (2020). Causes of Mental Illness.

Rainey, J. WebMD (2022). What Are Mental Health Assessments?